Setiap hari kita sangat terbiasa mengucapkan “tolong”, “terima kasih”,
“apa kabar?”, tetapi apakah kita sungguh-sungguh? Jujur, saya sih tidak.
Jika
ditanya orang “bagimana kabarmu?” cobalah jawab dengan rinci hal-hal
apa saja yang Anda alami. Lihatlah wajahnya yang terkejut dan terganggu
karena Anda bersungguh-sungguh menjawab pertanyaan itu. Basa-basi
tampaknya sudah sangat mengakar sekarang. Ucapan terima kasih yang tulus
dan diucapkan dengan sungguh kini sudah jarang.
Kita sering
meremehkan berbagai hal. Ketika saya berlibur ke Amerika Selatan, saya
sangat tersentuh karena penduduk di sana tetap bersyukur meski mereka
hidup miskin dan kekurangan. Tetapi di Amerika Serikat? Kondisi kita
jauh lebih baik tetapi kita masih ingin begitu banyak hal lagi. Ketika
kita mendapatkan apa yang kita mau pun, kita tak begitu puas.
Kegembiraan cepat memudar begitu kita mendapatkan barang yang kita
incar.
Tapi seberapa penting rasa syukur, selain perasaan hangat
dan gembira saat mengetahui seseorang mengagumi kita atau kita menerima
hadiah? Selain hal tersebut, mengapa rasa syukur dalam hubungan begitu
penting?
Percaya atau tidak, ada reaksi kimia terlibat dalam
tindakan memberi dan menerima. Ungkapan "lebih baik memberi daripada
menerima" tampaknya sekarang sudah terbukti.
Jordan Grafman dan
tim ilmuwan menunjukkan, memberikan hadiah kepada orang lain benar-benar
membuat orang merasa lebih baik daripada menerimanya. Memberikan hadiah
mengaktifkan perilisan dopamin dan oksitosin, hormon rasa senang yang
dihasilkan ketika kita mabuk asmara, seks atau sesuatu yang lain.
Dopamin
akan terangsang ketika kita menerima sesuatu. Tetapi bila kita memberi
sesuatu, oksitosin justru lebih terangsang. Ini sesuai dengan ungkapan
“memberi lebih baik dari menerima”.
Pengamatan menunjukkan, tiap kali
seseorang memberikan sesuatu kepada orang lain, ada tiga orang yang
merasakan manfaatnya: pemberi, penerima, dan pengamat. Bahkan melihat
kebaikan juga dapat memberi perasaan bahagia.
Para ilmuwan
menegaskan, berlatih syukur sebenarnya mengubah neurokimia otak kita,
mengurangi rasa sakit fisik, meningkatkan kewaspadaan, membuat tidur
lebih pulas, dan meningkatkan semua kesehatan tubuh secara keseluruhan.
Hal
ini menular. Dalam penelitian yang dilaporkan oleh Fowler dan
Christakis di Science Daily, ketika seseorang memberi uang untuk
membantu orang lain, maka si penerima cenderung juga akan memberikan
uang mereka sendiri ke orang lain di masa yang akan datang. Rasa syukur
dan perasaan baik menciptakan efek domino, kemurahan hati dari satu
orang menyebar ke tiga orang pertama dan kemudian ke sembilan orang yang
berhubungan dengan mereka di masa depan, dan bahkan kepada orang lain
dalam kejadian berikutnya.
Ketika Anda masih muda dan jatuh cinta
— atau bergairah — otak dan tubuh Anda sebenarnya diluapi zat kimia dan
hormon yang dikeluarkan tubuh saat menanggapi kegembiraan. Gairah cinta
dan nafsu seksual didominasi oleh dopamin, yang dihasilkan karena
kebahagiaan dan rasa dihargai. Ini adalah hormon sama yang mendorong
banyak kecanduan. Tapi bagaimana bila api asmara mulai mengecil?
Ketika
api gairah cinta berubah menjadi kecil, hal yang dapat menjaga
keharmonisan dan perasaan baik tetap mengalir adalah ikatan, sikap dan
rasa syukur. Ketika cinta meredup, hal-hal sederhana seperti senyuman,
tatapan mata yang dalam, sentuhan, belaian, pelukan, memanjakan, kejutan
atau pujian tidak terduga untuk pasangan menghasilkan lebih banyak rasa
syukur dan oksitosin yang dapat memelihara dan mempertahankan hubungan
untuk jangka panjang.
Kesimpulannya adalah, apa pun yang Anda
fokuskan, apa pun yang Anda berusaha wujudkan, secara alami Anda akan
mendapatkan lebih dari itu. Ini adalah bagian dari hukum alam semesta,
fisika momentum. Berfokus pada penderitaan hanya akan membuat Anda tetap
terjebak di dalamnya. Berfokus pada setiap potongan kebaikan yang
mungkin dapat Anda temukan dalam hidup maka Anda akan mengalami kemajuan
dalam kebebasan Anda sendiri.
Kadang-kadang itu adalah
satu-satunya hal yang bisa kita lakukan. Merasa bersyukur atas apa yang
Anda miliki, bahkan jika itu sedikit, sebenarnya menggeser pola pikir
dan energi Anda. Ini membuat Anda keluar dari pola pikir “selalu
miskin”, membuka hati Anda dan menciptakan momentum baru yang akan terus
menguat, menciptakan beberapa hasil yang benar-benar menakjubkan.
Bersyukur itu menyembuhkan. Dan dapat membuka pintu yang kadang-kadang tidak dapat terbuka oleh hal lainnya.sumber


Posting Komentar